Waktu itu,
entah tanggal berapa dan hari apa namun, yang ku tahu hari itu hari ulang tahun
teman sekelasku. Anak laki-laki yang bertubuh gemuk dan tinggi, mata yang sipit
dan kulit yang putih itu namanya farid. Di sekolah dia mengajak semua teman
sekelasnya termasuk aku untuk hadir di pesta ulang tahunya, saat itu aku
senang-senang saja apalagi bisa makan gratis dan enak asalkan bawa kado saja
buat anak gedut itu yang sering bikin aku kesel!. Ya, memang dia memang jail
dan usil sama semua teman-temannya tak jarang juga di kelas aku sering berdebat
dengan dia.
Akhirnya
aku memberikan kado berupa buku tulis dan alat tulis, yah namanya juga waktu SD
asalkan wujudnya berupa kado pasti senang-senang saja menerimanya tak peduli
isinya sangat sederhana sekali pun. Siang itu aku dan teman-teman ku datang ke
rumah si farid, yah namanya juga anak kaya pestanya sangat meriah di rumah
pohon lagi betah banget deh. Setelah farid meniup kue ultahnya dan memotong
lalu membagikan kuenya aku dan teman-temanku di persilahkan untuk makan siang
bersama. Pada saat itu, aku duduk di sebelah vian sahabat karibnya farid yang
kemana pun farid pergi dia pasti ikut terus, juju raja sih dulu sempat kagum
sama vian. Nah, pada saat itu tiba-tiba saja minuman vian tumpah dan alhasil
karpet yang ku dudukipun basah, farid menyuruhku duduk di sebelahnya. Sangat
terpaksa sih, dan temen-temenku pun malah menggodaku aku tambah merasa risih
dan jengkel tapi a gimna lagi dari pada bajuku ikut-ikutan basah.
Ada sesuatu
yang berbeda pada sosok pada saat itu, tiba-tiba saja dia begitu akrab padaku,
sangat ramah dan sok menawariku untuk makan lagi tapi yah tengsin dong masa aku
aja yang makan. Setelah kejadian itu dia jadi lebih sering main kerumhaku
dengan alasan pengen minta tnaman bunga yang mama ku tanam, bunga apa saja dia
minta katanya sih untuk di rawat di rumahnya. Papa ku dan mama ku sempat curia
dan sempat bertanya kenapa farid dan sahabatnya itu datang terus ke rumahku,
aku jawab “nggak tau” malah papa beranggapan aku dan farid ‘pacaran’ oh no!
it’s impossible for me. Aku sama sekali tidak menyukainya berhubungan dengan
sifatnya yang “bandel” aku malah lebih menyukai sahabatnya, vian. Sejak itu
pula dia sering memberiku barang-barang kecil seperti gelang dan lain-lain (lupalagi
soalnyaa kejadiannya waktu kelas 5SD).
Aku rasa
dia laki-laki pertama yang megajakku makan disampingnnya dan memberiku
hadiah-hadiah kecil dan mendatangi rumahku hampir tiap harinya. Sayang, pada
semester dua aku dan keluarga ku harus pindah ke bandung. Entahlah apakah dia
masih di papua atau sudah pergi ke kampunya, Makassar. Dan ku pikir dialah
cinta monyet pertamakuJ
And it’s
very fun if I can see his again.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar